BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH (TEKS DRAMA)

27 Oktober 2012
 
Jaman dahulu kala di sebuah desa tinggal sebuah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan seorang gadis remaja yang bernama Bawang Putih. Mereka adalah keluarga yang bahagia. Meski ayah Bawang Putih hanya pedagang biasa, namun mereka hidup rukun dan damai. Namun suatu hari ibu Bawang Putih sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Bawang Putih sangat berduka demikian pula ayahnya.
Bawang Putih   : “ Ayah, mengapa ibu pergi meninggalkan kita begitu cepat?
Ayah                    : “ Ini memang sudah takdirnya, nak ! “
Bawang Putih   : “ Ya, sudah lah, yah !”
Ayah                     : “ Ya, anakku yang sudah biarkah sudah”
Di desa itu tinggal seorang janda yang memiliki anak bernama Bawang Merah. Semenjak Ibu Bawang Putih meninggal ibu Bawang Merah sering berkunjung kerumah Bawang Putih. Dia sering membawakan makanan, membantu bawang putih membereskan rumah, atau hanya menemani Bawang Putih dan ayahnya ngobrol
Ibu Bawang Merah         : “ Bawang Putih, ini ada sedikit makanan untukmu”
Bawang Putih                     : “ Terima kasih bu ! “
Ibu Bawang Merah         : “ Ya, sama-sama, ya udah ibu pulang dulu, ya ! “
Ayah                                     : “ Oh, ya salam buat Bawang Merah ya !
Ibu Bawang Merah         : “ Iya! “
Pada akhirnya ayah Bawang Putih berfikir bahwa mungkin lebih baik kalau ia menikah saja dengan ibu bawang merah. Dengan pertimbangan dari bawang putih, maka ayah ayah bawang putih menikah dengan ibu bawang merah
Ayah                                     : “ Bawang Putih jika ayah menikah dengan ibu Bawang Merah kamu                                           setuju apa, gak ? “
Bawang Putih                   : “ Aku setuju ayah “
Ayah                                     : “ Baiklah  kalau begitu, bagaimana denganmu Bawang Merah?
Bawang Merah                  : “ Aku setuju, Ya kan bu ? “
Ibu Bawang Merah         : “ Ya! “
Awalnya ibu bawang merah dan bawang merah sangat baik kepada bawag putih . Namun lama kelamaan sifat asli mereka mulai kelihatan. Mereka kerap memarahi bawang Putih dan kerap memberinya pekerjaan yang berat jika ayah bawang putih sedang berdagang. Tentu saja Ayah Bawamg Putih tidak tahu karena Bawang Putih tidak pernah menceritakannya
Ibu                         : “ Putih kamu harus mengepel, cuci piring, dan semua pekerjaan rumah harus                                                                      kamu selesaikan “
Bawang Putih   : “ Baiklah ibu ! “
Bawang Merah                : “ Putih kamu harus membersihkan kamarku yang berantakan “
Bawang Putih   : “ Iya…..ya kak
Suatu hari ayah Bawang Putih jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia
Ayah                     : “Bawang Putih sepertinya ayah sudah tidak kuat lagi karena penyakit ayah                                                        yang  hampir menyebr keseluruh tubuh ayah”
Bawang Putih   :” Ayah Putih mohon ayah jangan tinggalin putih yah!”
Ayah                     : “ Nak jikalau ayah pergi baik2 ya, nak ! “
Bawang Putih   : “ Ya, ayah ! “
Ayah                     : “ Bu, aku titip putih ya ? “
Ibu Bawang Merah         : “ Ya, ayah ! “
Bawang Putih   : “ a…..yah……., jangan tinggalin putih, yah” (menangis )
Sejak saat itu Bawang Merah dan ibunya semakin berkuasa dan semna-mena terhadap Bawang Putih hampir tidak pernah beristirahat.
Ibu                         : ” Putih kamu harus bangun sebelum subuh, untuk mempersiapkan air mandi                                                                     dan sarapan untuk saya dan bawang putih, kemudian kamu harus memberi                                                     makan ternak, menyirami kebun, dan mencuci baju ke sungai, lalu kamu harus                                                                    menyetrika, dan membereskan rumah, mengerti ! “
Bawang Putih   : “ mengerti, ibu ! “
Namun Bawang Putih selalu melakukan pekerjaaannya dengan gembira, karena ia berharap suatu saat ibu tirinya akan mencintainya seperti anak kandungnya sendiri. Pagi itu seperti biasa Bawang Putih membawa Bakul berisi pakaian yang akan dicucinya di sungai. Dengan bernyanyi kecil dia menyusuri jalan setapak di pinggir hutan kecil yang biasa dilaluinya
Bawang Putih   :
Hari itu cuaca sangat cerah. Bawang Putih segera mencuci semua pakaian kotor yang dibawanya. Saking terlalu asyiknya, Bawang Putih tidak menyadari bahwa salah satu baju ibu tirinya hanyut terbawa arus. Celakanya baju yang hanyut adalah baju kesayangan ibu tirinya. Ketika menyadari hal itu. Bawang Putih mencoba menyusuri sungai untuk mencarinya
Bawang Putih   : “ Aku harus bisa menemukan baju ibu karena itu adalah baju kesayangan ibu
Namun  Bawang Putih tidak berhasil menemukannya. Dengan putus asa dia kembali kerumah dan menceritakan kepada ibunya
Bawang Putih   : “ Bu Maafkan Putih baju ibu hanyut terbawa arus”                                                                      Ibu                         : “ Apa…..Dasar ceroboh. Aku tidak mau tahu, pokoknya  kamu harus mencari                                                      baju itu ! dan jangan berani pulang ke rumah kalau kamu belum                                                                                   menemukannya , mengerti ?
Bawang putih terpaksa menuruti keinginan ibu tirinya. Dia segera menyusuri sungai tempatnya mencuci  tadi. Matahari mulai meninggi, namun Bawang Putih belum juga menemukan baju ibunya. Dia memasang matanya dengan teliti diperiksanya setiap juluran akar yang menjorok ke sungai siapa tahu baju ibunya tersangkut disana. Setelah matahari sudah condong kebarat, Bawang Putih melihat seorang ibu yang hendak pergi ke pasar
Bawang Putih   : “ Bi…..bi…bi ! “
Bibi                         : “ Ya, nak ada apa ? “
Bawang Putih   : “ Bibi, apakah bibi melihat baju merah yang hanyut lewat sini ?, karena saya                                                                      harus menemukannya dan membawanya pulang “
Bibi                         : “ Ya, tadi saya lihat nak, kalu kamu mengejarnya cepat2 mungkin kau bisa                                                                menemukannya”                                                                                                                                        Bawang Putih   : “ Baiklah bibi, terimakasih! “                                                                                                                    Bibi                         : “ sama2, nak
Hari sudah mulai gelap, bawang putih mulai putus asa. Sebentar lagi malam akan tiba. Dari kejauhan Nampak cahaya lampu yang berasal dari sebuah gubuk tepi sungai. Bawang Putih segera menghampiri rumah itu dan mengetuknya
Bawang Putih   : “ Permisi……..! “
Nenek                   : “ Siapa kamu, nak ? “
Bawang Putih   : “ Saya Bawang Putih, nek. Tadi saya sedang mencari baju ibu saya yang hanyut                                                                dan sekarang kemalaman, bolehkah saya tinggal disini malam ini ? “
Nenek                   : “ Ya, tadi baju itu tersangkut di depan rumahku. Sayang, padahal aku                                                                       menyukai  baju itu, baiklah aku akan mengembalikannya, tapi kau harus                                                            menemeniku  disini selama seminggu, sudah lama aku tidak ngobrol dengan                                                        siapapun bagaimana ? “                                                                                                                          Bawang Putih   : “ Baiklah nek, saya akan menemani nenek selama seminggu, asalkan nenek                                                         tidak bosan saja denganku “
Selama seminggu Bawang Putih tinggal bersama dengan nenek itu. Setiap hari Bawang Putih membantu mengerjakan pekerjaan rumah nenek. Tentu saja nenek merasa senang. Hingga akhirnya genap sudah seminggu nenekpun memanggil Bawang Putih
Nenek                   : “ Nak, sudah seminggu kau tinggal disini dan aku senang karena kau     anak   yang  rajin dan berbakti. Untuk itu sesuai  janjiku  kau boleh membawa baju  pulang, dan satu lagi kau boleh memilih salah satu dari labu kuning ini sebagai hadiah ! “
Bawang Putih   : “ Tidak  usah,nek !
Nenek                   : “ Ayolah, Bawang Putih
Bawang Putih   : “ Ya, sudah Putih memilih yang kecil ya, nek
Nenek                   : “ Mengapa kamu memilih yang kecil ? “
Bawang Putih   : “ Saya takut tidak kuat membawa yang besar, nek !
Nenek                   : ( tersenyum )
Sesampainya di rumah, Bawang Putih menyerahkan baju merah milik ibu tirinya
Bawang Putih   : “ Ibu, ini Bajunya”
Ibu                         : “ Ya sudah sana pergi”
Bawang Putih   : “ Baik, bu! “
Bawang Putihpun pergi ke dapur untuk membelah labu kuningnya, alangkah terkejutnya Bawang Putih ketika labu yang terbelah berisi emas permata yang sangat banyak
Bawang Putih   : “ Hah, emas. Ibu aku dapat emas permata bu ! “
Bawang merah dan ibunyapun langsung merebut emas dan Permata tersebut
Bawang Merah                : “ Heh, gembel kamu dapat emas dan permata ini dari mana ? “                                                              Ibu                         : “ Ya, dari mana ? “
Bawang Putih     : “ aku mendapat emas permata ini dari……”
Bawang Merah                : “ Dari mana ? “
Bawang Putih   : “ Waktu itu aku mencari baju ibu hanyut terbawa arus, kemudian kemalaman                                                       menginap  di rumah nenek pinggir sungai, dan aku disuruh untuk menemanix                                                            selama seminggu, setelah genap seminggu aku diberi hadiah ini “
Setelah mendengar cerita BawangPutih, Bawang merahpun berencana untuk melakukan hal yang sama tapi kali ini Bawang Merah yang akan melakukannya.
Ibu                         : “  Bawang Merah kamu harus melakukan apa yang dilakukan oleh anak sialan                                                                    itu”
Bawang Merah                : “ Baiklah ibu! “
Ibu                         : “ Kalau begitu, besok pagi kamu harus pergi ke sungai “
Bawang Merah                : “ Baik bu ! “
Keesokan harinya Bawang Merahpun menghanyutkan bajunya ke sungai, setelah itu dia sampai di rumah nenek
Bawang Merah                : “ Nek, neek tau atau tidak baju yang hanyut tadi ! “                                                                     Nenek                   : “ Nenek tau, tapi amu harus menginap disini selama seminggu “                                            Bawang Merah  : “Baiklah ! “
Selama semi nggu itu Bawang Merah selalu bermalas-malasan, kalu ada yang dikerjakan pasti hasilnya tidak bagus karena dikerjakan dg asal-asalan. Akhirnya setelah seminggu nenek membolehkan bawang merah pulang
Bawang Merah                : “ Bukankah seharusnya nenek memberiku labu sebagai hadiah karena                                                                                   menemanimu selama seminggu ? “                                                                                                    Nenek                   : “ Ya, sudah silahkan kamu memilih salah satu dari labu ini !”
Bawang Merah                : ( mengambil yang besar, langsung pergi )
Sesampainya di rumah Bawang Merah segera menemui ibunya dan dengan gembira memperlihatkan labu yang dibawanya. Karena takut bawang putih minta bagian, mereka menyuruh bawang putih untuk pergi ke sungai
Ibu                         : “ Putih sana pergi ke sungai cuci baju-baju yang kotor                                                                                Bawang Putih   : “ Baiklah, bu ! “
Setelah Bawang Purih pergi mereka membelah labu tersebut, tapi ternyata yang keluar bukan emas melainkan binatang berbisa seperti ular. Binatang itu langsung menyerang Bawang Merah dan Ibunya hingga tewas
Bawang Merah dan Ibu : “ a………..a………a..a…a.a……! “
Itulah balasan bagi orang yang serakah


Sumber : http://ulimartha.wordpress.com