Kian Banyak Toilet, Kian Banyak Nyawa Selamat
Penulis : Josephus Primus | Sabtu, 17 November 2012 | 12:32 WIB

Kian Banyak Toilet, Kian Banyak Nyawa Selamat  
 
Manan Vatsyayana/AFP Dalam foto yang diambil pada 2009 ini, dua pria India terlihat buang air kecil di samping sebuah iklan yang menganjurkan hidup bersih. Buang air sembarangan menjadi masalah sosial yang serius di India, di mana 60 persen rumah tangga di negeri itu belum memiliki toilet permanen yang layak.

Jangan main-main dengan toilet. Pasalnya, sarana tempat manusia membuang hajat itu bisa menjadi alat ukur sehat tidaknya warga dunia.
Masih sekitar satu miliar warga dunia yang membuang hajatnya di area terbuka.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Hari Toilet Sedunia kemarin berpesan agar pembenahan sanitasi sekaligus memperbanyak toilet bisa menyelamatkan jutaan jiwa manusia di dunia. "Menghapus ketidakseimbangan sanitasi dimulai dari toilet," kata Pelapor Khusus PBB untuk HAM dan Penyelamatan Air Minum serta Sanitasi Catarina de Albuquerque di Geneva sebagaimana warta laman Bangkok Post pada Sabtu (17/11/2012).
PBB mencatat, lebih dari 2,7 juta orang meninggal dunia per tahun lantaran sanitasi yang tidak memadai. "Banyak dari korban meninggal dunia itu usianya di bawah lima tahun," kata Catarina de Albuquerque.
Ia juga mengatakan, akses mudah ke fasilitas sanitasi di seluruh dunia ternyata menunjukkan kalau seorang masuk dalam golongan "berpunya" atau "tidak berpunya".
Catarina menambahkan, di dunia ini hanya satu dari tiga orang yang mendapatkan akses ke toilet yang memadai. "Sementara, masih sekitar satu miliar warga dunia yang membuang hajatnya di area terbuka," katanya.
Catatan yang patut diperhatikan, imbuh Catarina, kekurangan sanitasi tak hanya membuat orang miskin sakit. Gara-gara kekurangan tersebut, warga miskin juga memiliki keterbatasan untuk tetap bertahan di sekolah dan tempat bekerja.
Lagi-lagi catatan PBB menunjukkan, tiap tahun anak-anak kehilangan 272 juta hari sekolah gara-gara buruknya kualitas air. Kenyataan itu membuat penyakit gampang datang.
Editor :
Josephus Primus, kompas On Line